Friday, June 8, 2012

Sandal Jepit untuk Mak


Serambi Indonesia, Minggu 27 Mei 2012


Adal nama anak malang itu. Gelisah. Dia berdiri dengan pose kaku seperti patung duka cita. Lingkaran hitam mengatung di bawah kelopak mata. Keringat meleleh bak mentega mencair. Roman wajahnya kelihatan sangat pucat. Tubuhnya kecil. Kurus. Kulit hitam mengkilap. Rambut keriting. Dia tuna wicara. Pagi itu, selembar layar raksasa terpampang di muka Gedung Pengadilan. Beberapa orang wartawan mondar-mandir meliput persidangan Adal. Kilatan kamera leluasa menyambar mukanya. Memantul cahaya dari bola mata.

Laki-laki, perempuan, tua-muda, ibu-ibu mengendong anak, berdesak-desakan di ruang pengadilan. Sebentar kemudian, penuntut umum menyodorkan barang bukti dan menyampaikan dakwaan untuk Adal  kepada Hakim. Adal tak bisa berkata sepatah katapun untuk membela diri. Hanya terdiam. Tiba-tiba dia menengok ke belakang menatap tajam ke arah Limah. 

Limah adalah orang tua Adal. Dia pemulung. Berusaha tegar menatap buah hatinya berdiri polos di hadapan Para Hakim. 

Dia tidak memakai kain berbahan sutra, melainkan gaun pendek lusuh dengan kancing tak tertutup semua yang dipungut dari tong sampah. Baju kumuhnya sangat kontras dengan orang-orang yang ingin melihat persidangan  Adal. Anak malang itu didakwa telah mencuri sepasang sandal jepit. Dia terancam mendapat kurungan penjara selama lima tahun.

Limah menghela nafas panjang mendengar putusan Pengadilan. Adal telah terbukti bersalah. Seketika tangis Limah pecah. Dia mengiba keadilan untuk buah hatinya itu.

 “Dimana keadilan untuk anakku?” teriak Limah dengan suara serak. “Anakku tak ada niat sekalipun mencuri sandal kumal itu,” ujarnya lagi. Batinnya tak kuasa melihat tubuh mungil buah hatinya dibungkam jeruji besi. Dia masih terlalu kecil menerima hukum seberat itu. Umur Adal baru beranjak 12 tahun.

*****

Suami Limah telah tiada ketika Adal masih dalam kandungan. Setahun kemudian kesedihannya makin menjadi-jadi ketika desa mereka diterjang gelombang raya. Semua jasad keluarga Limah tak pernah ditemukan. Air gelombang telah menggulung dan menghanyutkan mereka entah ke mana.

Rumah peninggalan mendiang suaminya kini telah tenggelam dalam hamparan samudera. Satu-satunya harta yang tersisa hanya sehelai kain yang melekat di tubuh Limah dan Adal.  Limah  kemudian  jadi pemulung. 

Adal pun putus sekolah. Dia cuma belajar baca tulis sampai kelas lima sekolah dasar.

Sekarang mereka hanya mampu membangun sebuah gubuk di atas lahan milik pemerintahan kota. Lapak  gubuk tidak  jauh dari tempat pembuangan akhir.

Gubuk mereka berlantai tanah dan tampak nyaris roboh. Ibarat pakaian, usang dan penuh tambalan. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Tak ada kursi dan meja. Lantai dilapisi plastik hitam. Langit-langit juga berlapis plastik biru-hitam. Bila musim hujan, lantai gubuk tergenang air dan berlumpur. Gundukan sampah plastik dan kaleng-kaleng bekas berada di muka gubuk mereka. Bau busuk menyengat hidung.

***

Tiga minggu sebelum Adal diperkarakan, dia memberikan kado sepasang sandal jepit kumal untuk Limah. Tali sandal pun hampir putus, tinggal menghitung hari sandal itu akan berakhir riwayatnya. Tapi sebelum itu terjadi,  Adal memungut sandal itu dari luar pagar perkarangan rumah seseorang yang tak ia kenal.
Hatinya sangat girang. Dia bergegas mencari koran bekas dan kardus kecil dalam tong sampah. Membalut sandal jepit kumal itu menjadi sebuah kado. Lalu,  dia menulis “Kado Adal, Untuk Mak”.

Menjelang malam Adal berlari pelan. Sebelah tangannya memegang kado. Dia  mengikuti jalan setapak menuju gubuknya.Ibunya pun bangun dari tidurnya.   “Apa itu Adal?”  Dia hanya mengapit kedua jari telunjuk dan jari jempol membentuk simbol “love”. Kemudian memberikan kado itu untuk Maknya. Tiba-tiba mata Limah berkaca-kaca, memantulkan bayangan Adal. Perasaan terharu berkecamuk dalam benaknya.

 “Mak sayang kamu,” ucapnya sambil membelai lembut rambut Adal. Jari-jari Adal  menyeka air matanya. Sesekali mengembang senyum di bibirnya. Limah tak bisa berkata-kata lagi. Memeluk. Mencium kening Adal. Sebentar kemudian Limah membuka kado itu pelan-pelan. Isinya sepasang sandal jepit. Dia makin menangis tersedu.

Adal langsung membantu mengenakan sandal jepit itu.  Borok masih membekas di telapak kaki Limah.  “Adal. Mak tahu, kamu pasti tak tega melihat telapak kaki Mak terluka lagi,” kata Limah dengan mata berkaca-kaca. Adal cuma menganggukkan kepala.

***

Pernah suatu ketika, mata hari sangat terik. Hembusan panas terasa memanggang jalan beraspal. Limah bertelanjang kaki menyelesuri sudut-sudut kota. Merangkul karung goni di pundaknya. mata yang awas mengintai setiap jalan yang dilewati. 

Menghentikan langkah sejenak memungut kaleng, kardus bahkan kertas yang tak lagi terpakai. Lalu kakinya kembali menyapa sudut-sudut kota.

Menjelang magrib seraya memegang kayu penyangga, ia berjalan tertatih-tatih kembali ke gubuknya. Telapak kakinya melepuh seperti terbakar. Ada luka menganga juga.

Lantas Adal bergegas berlari ke arah Limah. Merangkulnya. Tubuh mungil itu menjadi penyangga untuknya. Dia membilas luka Limah dengan air. Memandang muka maknya yang menahan rasa perih.

Keheningan malampun mulai menyergap. Adal tak memejamkan mata. Batinnya merasa terluka malam itu. Ia tak kuasa melihat penderitaan Maknya.

Sejak kejadian itulah, anak laki-laki tersebut tiap kali melihat sandal , ia segera memungutnya. 

Di pagi buta tangan kecil pucat itu memungut sandal jepit kumal yang dikiranya tak bertuan. Dia malah dituduh mencuri. Sekarang nasib Adal harus senyap di balik jeruji besi. Melawan dingin dan rasa rindu untuk Mak tercinta.

No comments: